Bacaan Alkitab Setahun:
Yesaya 27-31
Salah satu alasan mengapa saya sangat bersyukur sebagai umat
Allah adalah karena saya menyembah Allah yang murah hati. Bagi saya
secara pribadi, rasanya tidak ada Allah yang begitu murah hati kepada
umat-Nya selain Bapa Surgawi yang kita kenal di dalam nama Yesus.
Melalui perumpamaan tentang orang upahan di kebun anggur, kita akan
belajar mengenai kemurahan hati Allah kita.
Dalam perumpamaan
tersebut, diceritakan adanya masalah ketika para pekerja menerima
pembagian upah atas hasil kerja mereka. Mereka yang bekerja lebih dahulu
merasa keberatan karena upah mereka sama dengan pekerja yang hanya
bekerja selama satu jam. Namun, pemilik kebun anggur menegaskan bahwa ia
bukan berlaku tidak adil dalam hal ini karena sebelumnya mereka sudah
sepakat menerima upah satu dinar sehari. Kemurahan hatinya itu, yang
sukar dipahami oleh para pekerja yang terdahulu, tentulah sangat
disyukuri oleh pekerja terakhir yang hanya satu jam berkeringat.
Berbicara
mengenai sifat Allah yang murah hati, Alkitab juga mencatat bahwa Allah
kita menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik. Dia juga
menurunkan hujan bagi orang benar maupun orang yang tidak benar (band.
Mat. 5:45). Kasih di dalam diri-Nya membuat Allah bermurah hati terhadap
ciptaan-Nya.
Jika Allah begitu murah hati terhadap ciptaan-Nya,
seyogyanya umat-Nya juga menerapkan gaya hidup murah hati dalam hidup
keseharian. Biarlah dunia melihat bahwa Allah kita murah hati melalui
perbuatan kita. Mari bermurah hati!— IDO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar